Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

6 Juli 2026

Pengumuman - Ilmu Administrasi Negara

Kuliah Umum Menteri Luar Negeri RI

Dalam rangka rangkaian Dies Natalis FISIP UNSRAT ke-62, Panitia Dies Natalis bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia akan menyelenggarakan Kuliah Umum (Public Lecture) yang menghadirkan langsung Menteri Luar Negeri Republik Indonesia sebagai pembicara utama. Kuliah umum ini mengusung tema yang sangat strategis dalam mencermati konjungtur geopolitik saat ini, yaitu: “Diplomasi Indonesia di Tengah Dinamika Global” Bagi mahasiswa dan peserta yang hadir, panitia menyediakan berbagai benefit menarik berupa: E-Sertifikat Souvenir menarik Snack Makan Sore Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk berdiskusi langsung dan mendapatkan insight eksklusif mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia dari pucuk pimpinan diplomasi tanah air!

Berita - Ilmu Administrasi Negara

Workshop KONEKSI-BaKTI Dorong Peneliti Terjemahkan Riset Menjadi Policy Brief dan Rekomendasi Kebijakan

Makassar – Yayasan BaKTI bersama Program KONEKSI menyelenggarakan Workshop Developing Policy Briefs, Papers, and Infographics Advocacy bagi anggota Jaringan Peneliti Kawasan Timur Indonesia di Makassar. Kegiatan yang berlangsung pada 24 dan 25 Juni 2026 ini memperkuat kapasitas peneliti dalam menerjemahkan hasil riset menjadi policy brief, policy paper, infografis advokasi, dan rekomendasi kebijakan yang mudah dipahami oleh pengambil keputusan. Workshop ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Analisis Kebijakan Publik dan Knowledge-to-Policy (K2P) yang telah diikuti sebelumnya. Jika pada tahap awal peserta belajar membaca dokumen perencanaan daerah dan mengidentifikasi celah penelitian, maka pada tahap ini peserta diarahkan untuk mengubah hasil analisis tersebut menjadi produk komunikasi kebijakan yang lebih konkret. Dalam kegiatan ini, peserta membawa hasil analisis kebijakan yang telah disusun sebelumnya sebagai bahan dasar. Hasil tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai bentuk keluaran kebijakan, seperti policy brief, policy paper, dan infografis advokasi. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung berlatih menyusun produk kebijakan yang relevan dengan isu riset masing-masing. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Katerina Bataha, S.AP., M.AP., dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sam Ratulangi, sebagai peserta. Menurutnya, kemampuan menyusun policy brief penting dimiliki akademisi agar hasil penelitian dapat lebih mudah dipahami dan dimanfaatkan oleh pengambil keputusan. “Kemampuan menerjemahkan temuan penelitian ke dalam bahasa yang sederhana dan relevan, misalnya melalui policy brief, dapat membantu memengaruhi proses pengambilan keputusan sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih berbasis bukti atau evidence-based policy,” ujarnya. Salah satu fokus utama workshop adalah penyusunan policy brief. Dokumen ini menjadi penting karena dapat merangkum masalah, bukti, pilihan kebijakan, dan rekomendasi dalam format yang singkat dan langsung pada inti persoalan. Melalui policy brief, hasil penelitian dapat disampaikan secara lebih praktis tanpa menghilangkan kekuatan data dan analisis. Selain policy brief, peserta juga mempelajari penyusunan policy paper sebagai dokumen yang lebih analitis dan mendalam. Materi ini membantu peserta menyusun argumen kebijakan yang kuat, berbasis bukti, serta tetap berorientasi pada penyelesaian masalah publikWorkshop ini juga . menekankan pentingnya infografis advokasi sebagai media komunikasi kebijakan yang lebih visual dan mudah menjangkau publik. Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar visualisasi data, pemilihan grafik yang tepat, penyusunan pesan visual, serta cara membangun narasi kebijakan melalui data. Melalui pendekatan ini, hasil riset dapat dikemas menjadi informasi yang lebih mudah dibaca oleh berbagai kalangan, termasuk pemerintah, media, organisasi masyarakat sipil, dan publik umum. Kegiatan ini dirancang sebagai writing and production workshop. Karena itu, peserta tidak hanya mendengarkan pemaparan materi, tetapi juga mengikuti praktik penulisan, clinic writing, peer review, dan umpan balik langsung dari fasilitator. Proses tersebut membantu peserta memperbaiki struktur tulisan, memperjelas pesan utama, serta memperkuat rekomendasi kebijakan yang disusun. Perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) turut menjadi perhatian dalam penyusunan output kebijakan. Peserta diajak memastikan bahwa rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya berbasis data, tetapi juga memperhatikan kebutuhan kelompok yang berisiko tertinggal, seperti perempuan, penyandang disabilitas, kelompok miskin, masyarakat adat, masyarakat pesisir, dan kelompok rentan lainnya. Selain produksi dokumen, workshop juga membahas strategi agar policy brief dan produk kebijakan lainnya benar-benar sampai kepada pihak yang tepat. Peserta diajak memikirkan bagaimana rekomendasi riset dapat dibaca, dipahami, dan dipertimbangkan oleh pengambil keputusan, baik melalui mekanisme formal, jejaring informal, media lokal, maupun media sosial. Salah satu bagian penting dalam kegiatan ini adalah simulasi policy pitching. Melalui sesi tersebut, peserta berlatih menyampaikan gagasan kebijakan secara singkat, padat, dan meyakinkan kepada pengambil keputusan. Kemampuan ini menjadi penting karena peneliti sering kali harus menjelaskan temuan dan rekomendasi riset dalam waktu terbatas. Bagi Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Unsrat, kegiatan ini memiliki relevansi kuat dengan pengembangan kajian kebijakan publik, administrasi pembangunan, tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, dan riset berbasis bukti. Kemampuan menyusun policy brief dan rekomendasi kebijakan menjadi bagian penting dalam memperkuat kontribusi akademisi terhadap proses pengambilan keputusan publik. Workshop ini juga membuka ruang bagi peneliti untuk memperluas jejaring, bertukar pengalaman, dan membangun kolaborasi lintas wilayah. Dalam konteks Kawasan Timur Indonesia, jejaring semacam ini penting karena banyak persoalan pembangunan membutuhkan kerja sama lintas disiplin, lintas institusi, dan pendekatan yang berangkat dari kebutuhan lokal. Melalui kegiatan ini, para peneliti diharapkan semakin mampu menghasilkan produk kebijakan yang tajam, komunikatif, dan responsif terhadap kebutuhan daerah. Hasil riset yang sebelumnya tersusun dalam laporan atau artikel akademik diharapkan dapat diterjemahkan menjadi policy brief, policy paper, infografis advokasi, dan strategi komunikasi kebijakan yang lebih berdampak. Workshop KONEKSI-BaKTI ini menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi dengan pembuat kebijakan merupakan bagian penting dari kerja akademik. Penelitian yang kuat perlu didukung dengan penyampaian yang tepat agar pengetahuan dapat bergerak dari ruang akademik menuju proses kebijakan publik yang lebih inklusif dan berbasis bukti. Oleh: Anggita Chairiah

Berita - Ilmu Administrasi Negara

FGD KONEKSI-BaKTI Perkuat Jejaring Peneliti Indonesia Timur di Sulawesi Utara

Manado – Yayasan BaKTI bersama Program KONEKSI menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) KONEKSI’s Support to Eastern Indonesia Researchers Network di Manado, 15 Agustus 2024. Forum ini menjadi ruang bagi para peneliti di Sulawesi Utara untuk memperkuat jejaring, berbagi pengalaman riset, dan membahas peluang kolaborasi dalam menjawab isu-isu strategis daerah. Kegiatan ini menghadirkan peneliti dari berbagai perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta. Dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman yang beragam, para peserta berdiskusi mengenai pentingnya kerja sama lintas disiplin dalam membangun ekosistem penelitian yang lebih kuat di Kawasan Timur Indonesia. FGD tersebut difasilitasi oleh Dr. Ferry Daud Liando, M.Si., akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi. Dalam forum ini, turut hadir dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Sam Ratulangi, sebagai peserta diskusi. Melalui pendekatan partisipatif, peserta diajak mengidentifikasi berbagai persoalan yang menjadi perhatian di Sulawesi Utara. Isu yang mengemuka antara lain pembangunan wilayah pesisir dan kepulauan, kesehatan masyarakat, stunting, pariwisata berkelanjutan, inovasi pemerintahan daerah, pengelolaan sumber daya alam, mitigasi bencana, perlindungan masyarakat adat, serta pemberdayaan kelompok rentan. Berbagai isu tersebut dibahas untuk melihat peluang kontribusi penelitian dalam mendukung pembangunan daerah. FGD ini tidak hanya menjadi ruang pemetaan masalah, tetapi juga menjadi forum untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan potensi kerja sama antarpeneliti. Salah satu perhatian dalam diskusi adalah pentingnya perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dalam penelitian. Perspektif ini mendorong peneliti untuk melihat persoalan pembangunan secara lebih inklusif, terutama dengan memperhatikan kelompok yang berisiko tertinggal, seperti perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, masyarakat pesisir, dan kelompok marginal lainnya. Suasana diskusi kelompok dalam FGD KONEKSI-BaKTI yang membahas isu strategis daerah dan peluang kolaborasi riset di Sulawesi Utara Selain membahas isu daerah, peserta juga berbagi pengalaman mengenai penelitian kolaboratif. Dalam diskusi tersebut, kolaborasi dipandang sebagai salah satu cara untuk memperkaya pendekatan penelitian, memperluas akses pengetahuan, dan menghasilkan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Meski demikian, peserta juga menyoroti sejumlah tantangan dalam membangun kerja sama riset, antara lain perbedaan latar belakang keilmuan, koordinasi lintas institusi, keterbatasan pendanaan, manajemen waktu, serta kebutuhan untuk menjaga komunikasi yang berkelanjutan. Tantangan tersebut menunjukkan pentingnya wadah bersama yang mampu menghubungkan peneliti dari berbagai lembaga dan disiplin ilmu. Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah menguatnya komitmen untuk membangun Jaringan Peneliti Indonesia Timur sebagai ruang kolaborasi lintas institusi. Jejaring ini diharapkan dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan, pengembangan riset bersama, serta perluasan kerja sama penelitian di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Dengan menggunakan Sulawesi Utara sebagai konteks pembahasan, FGD ini menjadi lebih dekat dengan persoalan nyata di daerah. Peserta dapat melihat bagaimana isu lokal dapat dikembangkan menjadi agenda riset bersama dan diarahkan untuk mendukung pembangunan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pengetahuan. Bagi Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Unsrat, keterlibatan dalam forum seperti ini memiliki relevansi dengan pengembangan kajian administrasi publik, kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, pembangunan daerah, pelayanan publik, serta kolaborasi antarlembaga. Kegiatan ini juga membuka ruang bagi akademisi untuk memperluas jejaring dan memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan daerah. FGD KONEKSI-BaKTI ini menegaskan pentingnya jejaring peneliti yang aktif, terbuka, dan berkelanjutan di Kawasan Timur Indonesia. Melalui jejaring yang kuat, hasil penelitian diharapkan tidak hanya berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses penyelesaian persoalan masyarakat dan pembangunan daerah.   Oleh: Anggita Chairiah

Scroll to Top